Skip to main content
Photo from unsplash: erp-background-banner

Migrasi Data ke Sistem ERP: Cara Melakukannya Tanpa Gangguan Operasional

Written on November 28, 2024 by Delvin, CERIS.

6 min read
––– views

Kalau ada satu fase dalam implementasi ERP yang paling sering diremehkan dan paling sering bermasalah, itu adalah migrasi data. Untuk memahami konteks yang lebih luas tentang di mana migrasi data masuk dalam keseluruhan perjalanan proyek, baca tentang proses implementasi ERP secara keseluruhan — dari tahap discovery hingga go-live. Bukan karena teknologinya sulit — teknis migrasi data sebenarnya cukup straightforward. Masalahnya hampir selalu di kualitas data yang akan dipindahkan.

Ada pepatah di dunia IT yang berbunyi "garbage in, garbage out." Di migrasi ERP, ini sangat literal: kalau data yang dimigrasikan kotor dan tidak konsisten, sistem baru yang canggih pun akan menghasilkan laporan yang tidak bisa dipercaya dan transaksi yang sulit diproses.

Apa yang Perlu Dimigrasikan?

Tidak semua data dari sistem lama perlu — atau harus — dipindahkan ke ERP baru. Ada tiga kategori utama:

Data Master

Ini fondasi dari sistem baru. Tanpa data master yang bersih, tidak ada transaksi yang bisa diproses dengan benar.

  • Produk/SKU — nama, kode, kategori, unit satuan, harga jual, harga beli, dan atribut lain yang relevan
  • Pelanggan — nama, alamat, kontak, credit term, harga khusus kalau ada, NPWP untuk pelanggan korporat
  • Supplier — nama, alamat, kontak, payment term, rekening bank
  • Chart of accounts — daftar akun keuangan yang akan dipakai
  • Karyawan — data pribadi, jabatan, komponen gaji, rekening bank, data BPJS dan pajak

Saldo Awal

Per tanggal cutover (tanggal perpindahan ke sistem baru), saldo-saldo ini perlu dimasukkan:

  • Saldo akun keuangan (kas, piutang, hutang, persediaan, aset tetap, dll.)
  • Stok fisik per produk per lokasi
  • Open transactions — invoice yang belum lunas, purchase order yang belum selesai, dll.

Data Historis

Ini opsional dan perlu dipertimbangkan dengan hati-hati. Data transaksi historis — penjualan tahun lalu, riwayat pembelian — berguna untuk analitik dan referensi, tapi jumlahnya bisa sangat besar dan prosesnya kompleks.

Untuk sebagian besar implementasi, lebih praktis untuk tidak migrasi semua data historis ke sistem ERP baru. Simpan data lama di sistem lama (atau export ke arsip) dan mulai fresh di ERP baru dari tanggal cutover. Data historis bisa dikonsultasikan di sistem lama kalau diperlukan.

Masalah Umum di Data yang Akan Dimigrasikan

Duplikat

Pelanggan yang sama tercatat dua kali dengan nama yang sedikit berbeda: "CV Sinar Mas" dan "CV Sinarmas" dan "Sinar Mas CV." Di sistem lama mungkin tidak jadi masalah besar karena orang yang input sudah tahu itu sama. Di ERP baru, ketiganya akan menjadi tiga pelanggan berbeda, dan piutang tersebar tidak akurat.

Deduplikasi perlu dilakukan sebelum migrasi: identifikasi semua duplikat, tentukan mana yang "canonical," dan konsolidasikan.

Format yang Tidak Konsisten

Nomor telepon yang ditulis dengan berbagai format: "0812-1234-5678", "62812 1234 5678", "08121234567". Kode pos yang kadang diisi kadang tidak. Nama provinsi yang ditulis singkatan di sebagian record dan nama lengkap di sebagian lain.

Format yang tidak konsisten tidak selalu mencegah migrasi, tapi membuat data sulit dicari dan laporan sulit dianalisis.

Data yang Tidak Lengkap

Produk tanpa kategori, pelanggan tanpa alamat, atau karyawan tanpa NPWP. Di sistem ERP, banyak field yang sebelumnya optional menjadi required karena dibutuhkan untuk proses tertentu (misalnya NPWP pelanggan untuk e-Faktur).

Data yang tidak lengkap perlu dilengkapi sebelum migrasi — dan ini sering berarti menghubungi pelanggan atau supplier untuk mengkonfirmasi informasi yang kurang.

Harga dan Stok yang Sudah Tidak Akurat

Di banyak bisnis, ada produk di daftar yang sudah tidak aktif dijual tapi belum dihapus. Ada harga di sistem yang sudah tidak berlaku. Ada stok yang tercatat tapi secara fisik sudah tidak ada.

Migrasi adalah kesempatan untuk bersih-bersih: hapus data yang sudah tidak relevan, perbarui yang sudah usang, dan pastikan yang dimigrasikan adalah data yang benar-benar akurat saat ini.

Proses Pembersihan Data

Proses data cleanup biasanya berjalan seperti ini:

  1. Export semua data dari sistem lama ke format spreadsheet untuk dikerjakan
  2. Identifikasi masalah — duplikat, format tidak konsisten, data kosong, data tidak relevan
  3. Prioritaskan — mana yang kritis untuk diperbaiki sebelum go-live, mana yang bisa diperbaiki bertahap setelahnya
  4. Kerjakan pembersihan — ini bisa melibatkan banyak orang dari berbagai departemen yang tahu konteks data mereka
  5. Validasi — setelah dibersihkan, review ulang untuk memastikan tidak ada yang terlewat
  6. Format sesuai template import — ERP biasanya punya format tertentu untuk import data master

Jangan underestimate waktu yang dibutuhkan. Untuk bisnis dengan data yang cukup banyak dan kondisi yang tidak terlalu baik, proses ini bisa memakan 2-4 minggu. Lebih baik dialokasikan waktunya dari awal daripada terburu-buru menjelang go-live.

Strategi Cutover: Parallel Run vs. Hard Cutover

Ada dua pendekatan utama untuk perpindahan ke sistem baru:

Hard cutover — pada tanggal tertentu, semua transaksi baru masuk ke sistem ERP. Sistem lama tidak lagi dipakai untuk transaksi baru, hanya sebagai referensi. Ini lebih sederhana untuk dikelola tapi risikonya lebih tinggi — kalau ada masalah di sistem baru, tidak ada fallback.

Parallel run — selama periode tertentu (biasanya 1-4 minggu), semua transaksi diinput di kedua sistem. Ini memungkinkan perbandingan dan verifikasi, tapi bebannya dua kali lipat — staf harus input ke dua tempat sekaligus. Hanya cocok kalau memang ada kekhawatiran besar tentang akurasi sistem baru.

Untuk kebanyakan implementasi, hard cutover dengan persiapan yang matang adalah pilihan yang lebih praktis. Yang kritis adalah pastikan semua saldo awal sudah divalidasi dengan benar sebelum tanggal cutover.

Validasi Setelah Migrasi

Setelah data dimigrasikan ke sistem ERP, lakukan validasi sebelum go-live:

  • Jumlah produk, pelanggan, dan supplier di ERP sesuai dengan yang diharapkan
  • Saldo akun keuangan di ERP cocok dengan saldo di neraca per tanggal cutover
  • Stok di ERP sesuai dengan hasil stock opname per tanggal cutover
  • Open transactions (invoice belum lunas, dll.) tercatat dengan benar

Validasi ini tidak boleh diskip. Memulai operasional dengan data yang salah lebih buruk dari menunda go-live beberapa hari untuk memastikan datanya benar.

Kalau Anda sedang mempersiapkan migrasi ke sistem ERP dan butuh panduan tentang bagaimana prosesnya, lihat layanan ERP kami atau mulai konsultasi gratis di halaman kontak kami.