Skip to main content
Photo from unsplash: erp-background-banner

ERP untuk Bisnis F&B: Dari Kontrol Bahan Baku sampai Laporan Harian

Written on October 11, 2024 by Delvin, CERIS.

5 min read
––– views

Ada pertanyaan yang harusnya mudah dijawab oleh setiap pemilik restoran: apakah menu ayam geprek saya menguntungkan atau tidak?

Kelihatannya sederhana. Tapi untuk menjawabnya dengan benar, Anda perlu tahu: berapa biaya bahan baku per porsi (ayam, tepung, minyak, bumbu, nasi, lalapan), berapa biaya langsung lainnya (packaging, gas untuk masak), dan berapa harga jual dikurangi biaya-biaya itu.

Di banyak restoran yang belum pakai sistem yang terintegrasi, pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan tepat. Pemilik tahu omzet harian dari laporan kasir, tapi tidak tahu food cost per menu item karena pembelian bahan baku dicatat terpisah dan tidak pernah dihubungkan ke penjualan secara item per item.

Masalah Utama di Bisnis F&B

Food Cost yang Tidak Terkontrol

Food cost — persentase biaya bahan baku terhadap pendapatan — adalah metrik paling kritis di F&B. Industri restoran umumnya beroperasi di food cost 25-35%. Kalau food cost Anda di atas itu tapi tidak ketahuan karena tidak ada tracking yang proper, margin sudah tergerus tanpa ada yang sadar.

Penyebabnya bisa macam-macam: porsi yang tidak konsisten karena tidak ada standar resep, bahan baku yang terbuang atau hilang tanpa tercatat, pembelian bahan baku yang terlalu banyak sehingga expired sebelum dipakai, atau harga beli dari supplier yang naik tapi harga menu belum disesuaikan.

Stok Bahan Baku yang Tidak Terpantau

Di restoran yang ramai, bahan baku berputar cepat. Daging, sayuran, dan bahan segar lainnya punya masa simpan singkat. Kalau stok tidak dipantau dengan baik, ada dua masalah: bahan habis di tengah jam operasional (dan harus 86 menu itu ke pelanggan yang sudah pesan), atau bahan expired dan harus dibuang (kerugian langsung).

Tanpa sistem, staf dapur sering cek stok secara visual — lihat lemari pendingin, kira-kira cukup atau tidak. Ini tidak akurat dan sering bermasalah.

Rekonsiliasi Kasir yang Rumit

Kalau restoran punya beberapa kasir atau beberapa shift, rekonsiliasi di akhir hari — mencocokkan penjualan dengan kas yang masuk — bisa memakan waktu. Belum lagi kalau ada pembayaran mix: tunai, QRIS, kartu debit, GoPay — masing-masing perlu direkonsiliasi terpisah.

Apa yang ERP Lakukan untuk F&B

Recipe Costing (Bill of Materials untuk Masakan)

Ini padanan BOM di manufaktur, tapi untuk masakan. Setiap menu item didefinisikan komposisinya: ayam geprek = 150gr paha ayam + 20gr tepung + 50ml minyak goreng + ... dan seterusnya. Harga per satuan bahan baku diambil dari data pembelian terakhir.

Dengan data ini, ERP bisa menghitung food cost per menu item secara otomatis. Ketika harga beli ayam naik, food cost untuk semua menu yang mengandung ayam otomatis terupdate — pemilik langsung bisa lihat dampaknya terhadap margin dan mempertimbangkan penyesuaian harga.

Tracking Pemakaian Bahan Baku

Setiap kali menu terjual di POS, resep digitalnya "dikonsumsi" dari stok bahan baku. Kalau restoran jual 50 porsi ayam geprek hari ini, sistem tahu bahwa 7.5 kg paha ayam harusnya sudah terpakai. Stok bahan baku berkurang otomatis.

Ini memungkinkan perbandingan antara pemakaian teoritis (berdasarkan penjualan) versus pemakaian aktual (berdasarkan pembelian dan sisa stok fisik). Selisih yang besar menunjukkan ada masalah: porsi berlebihan, waste tidak tercatat, atau kemungkinan penyimpangan yang lebih serius.

Manajemen Tanggal Kedaluwarsa

Bahan baku yang masuk dicatat dengan tanggal kedaluwarsa. Sistem memberi alert ketika ada bahan yang mendekati expired — staf dapur bisa diprioritaskan untuk pakai bahan tersebut lebih dulu (FEFO: First Expired, First Out). Bahan yang benar-benar expired dicatat sebagai kerugian, bukan menghilang begitu saja dari sistem.

Manajemen Supplier

F&B sering punya banyak supplier untuk kategori berbeda: supplier sayuran, supplier daging, supplier bahan kering, supplier minuman. Mengelola purchase order, penerimaan barang, dan pembayaran ke masing-masing supplier dalam satu sistem membuat proses pembelian lebih terstruktur.

ERP juga bisa membandingkan harga dari supplier berbeda untuk bahan yang sama — berguna untuk negosiasi dan keputusan penggantian supplier.

Laporan Harian dan Analitik

Di F&B, laporan harian penting: total penjualan per shift, breakdown per kategori menu, pembayaran per metode, top-selling items, dan slow-moving items. Semua ini bisa tersedia otomatis di akhir setiap hari tanpa staf harus merekap manual.

Analitik yang lebih dalam juga tersedia: tren penjualan per hari dalam seminggu, perbandingan performa antar periode, kontribusi pendapatan per menu category. Data ini membantu keputusan menu engineering — mempertahankan menu yang menguntungkan, menyesuaikan atau menghapus yang tidak.

F&B yang Multi-Outlet

Untuk bisnis F&B yang sudah punya lebih dari satu outlet, ERP memberikan visibilitas konsolidasi: bagaimana performa masing-masing outlet, apakah food cost satu outlet lebih tinggi dari yang lain (dan kenapa), dan bagaimana mengelola pengadaan bahan baku secara terpusat untuk mendapat harga lebih baik dari supplier.

Ini yang membedakan bisnis F&B yang bisa scale dengan terkontrol versus yang setiap outlet berjalan sepenuhnya independen tanpa standarisasi. Kalau Anda tertarik melihat bagaimana ERP diterapkan di industri sejenis, baca juga tentang ERP untuk bisnis retail yang berbagi banyak tantangan operasional yang mirip.

Kalau Anda mengelola bisnis F&B dan ingin mendiskusikan sistem yang bisa membantu kontrol food cost dan operasional Anda, CERIS siap membantu. Lihat layanan ERP kami atau langsung mulai konsultasi gratis di halaman kontak kami.